INDOFOCUS.COM

BERITA

BISNIS

INDONESIA FOCUS

PPP  5,4 PERSEN, PDIP 14.4 PERSEN, GOLKAR 14,5 PERSEN, PD 20.4 PERSEN, PAN 6,8, PKS 8,7 PERSEN  dalam Pemilu 2009   OBAMA YAKIN DAPAT MENGATASI KRISIS  

Utama

Pemilu

Focus

Politik

Caleg

Hukum

Ekonomi

Amerika

Relese

Liputan

Budaya

Editorial

Wawancara

Opini

Sinetron

Pameran

Kakao

Blog

Mr.Foc

Iklan

 

             KAMUS BAHASA INDONESIA - INGGERIS

 

Statement Politik  Syafruddin Anhar, Ketua Umum Angktan Muda Ka'bah : " Dukung JK-WIN" 

SISTEM EKONOMI
Praktik Neolib Harus Dihentikan

Oleh: Revrisond Baswir, Ekonom

Praktik neoliberalisme di Indonesia harus bisa dihentikan dengan tidak memberikan ruang bagi penganut paham neolib mengendalikan arah kebijakan ekonomi nasional. Ini makin beralasan karena sejak kemerdekaan diproklamasikan, ekonomi nasional tidak pernah diselenggarakan dengan baik, bahkan kian menuju ke arah neokolonialisme akibat orientasi dan praktik neoliberalisme.

"Perjalanan ekonomi kerakyatan sejak proklamasi kemerdekaan lebih tepat disebut proses transisi dari kolonialisme menuju neokolonialisme," kata ekonom Revrisond Baswir, di Jakarta, Rabu.

Dia menyebutkan, utang yang pada akhir pemerintahan Orde Baru berjumlah 54 miliar dolar AS kini membengkak menjadi 165 miliar dolar AS. Ini, ujarnya, menunjukkan bahwa ekonomi yang dianut tidak berlandaskan konstitusi.

Menurut Revrisond, agenda ekonomi neoliberal antara lain berupa pembatalan seluruh atau sebagian pasal yang dalam tiga produk perundang-undangan oleh Mahkamah Konstitusi belum lama ini.
Ketiganya adalah UU Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan, UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas (Migas) Bumi, dan UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. "Memang amat berat tantangan untuk mewujudkan ekonomi kerakyatan ini. Sebab,
dibanding di era kolonial dulu, kondisi sekarang jauh lebih parah," kata Revrisond.

Dengan potensi sumber daya alam dan manusia, ekonomi kerakyatan masih mungkin bangkit. Ini tidak bergantung pada siklus lima tahunan berupa pergantian kepemimpinan nasional. "Ada atau tidak ada pergantian pemimpin nasional, perjuangan mewujudkan ekonomi kerakyatan harus berlanjut. Ini semua tergantung pemimpin bangsa,"
tuturnya.

Revrisond juga mengatakan, pengusung paham neoliberal mengedepankan keterbukaan secara absolut dalam mengarahkan kebijakan ekonomi nasional.

Pada dasarnya neoliberal merupakan antitesis ekonomi kerakyatan yang menempatkan campur tangan pemerintah sebagai pengendali kekuatan pasar.

"Seorang penganut paham neoliberal itu bisa sangat sederhana dalam penampilan. Karena itu, kesederhanaan seseorang jangan dijadikan ukuran untuk menilai apakah dia neoliberal atau bukan," kata Revrisond.

Dalam status antitesis, neoliberalisme dan ekonomi kesejahteraan (keynesianisme) tidak pernah dapat disamakan dengan ekonomi kerakyatan. Neoliberalisme dan keynesianisme memang memberi perhatian besar terhadap penciptaan kesempatan kerja. Namun, kedua paham ekonomi itu tetap dibangun berdasarkan prinsip persaingan bebas dan kepemilikan alat produksi pribadi.

Sementara itu, ekonom Ichsanuddin Noorsy mengatakan, posisi ekonomi Indonesia masih terjebak dalam neoliberal jika visi dan misi tiga pasangan capres-cawapres belum berpihak ke ekonomi kerakyatan. "Karena itu, agar tidak terjebak terus-menerus dalam neoliberal, konsep rujukan ekonomi untuk menyejahterakan dan menata ulang kemandirian ekonomi masyarakat harus lebih jelas," katanya.

Lebih jauh Noorsy mengatakan, Indonesia sudah terperangkap berbagai perjanjian dengan lembaga multilateral yang mempersyaratkan pasar bebas serta liberalisasi diterapkan di berbagai sektor strategis. Indonesia juga terjebak dalam kondisi pasar sebagai posisi di atas segala-galanya serta membenarkan utang sebagai jalan keluar untuk mengatasi defisit anggaran negara.

"Jika neoliberal berlanjut, kita akan terus berhadapan dengan penyakit ekonomi berupa pengangguran serta ketimpangan sosial di bidang pendidikan, ekonomi, dan regional. Untuk mengatasi ini, kita harus kembali ke ekonomi konstitusi sesuai UUD 1945," ujar Noorsy.

Menurut dia, barang dan jasa publik harus tetap dikuasai, diatur, diperuntukkan, dan didayagunakan bagi setinggi-tingginya kemakmuran rakyat luas. Dalam konteks ini, pemerintah tidak didikte mekanisme pasar.

Di lain pihak, ekonom Sri Adiningsih mengatakan, wacana tentang orientasi kebijakan ekonomi ini sebaiknya diletakkan dalam konteks kerja sama ekonomi yang menguntungkan rakyat. Untuk itu, tim ekonomi di belakang presiden harus kuat.

Adiningsih khawatir kalau kebijakan tim ekonomi banyak dipolitisasi, Indonesia terjebak pada kepentingan jangka pendek, sementara masalah-masalah struktural bangsa terabaikan. "Dari pengalaman krisis ekonomi yang kita alami, pelajaran yang bisa dipetik antara lain jangan menggantungkan pembiayaan pembangunan terhadap utang luar negeri. Kita harus banyak membangun ekonomi domestik. Ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi kita," katanya. (SK)

Jangan Tinggal Diam

Saudaraku,..

Masalah kita saat ini, mengapa kita terus saja miskin, tertinggal, terbelakang dari kemajuann bangsa-bangsa lain?

Pada saat yang sama solidaritas kepada sesama saudara, tetangga makin berkurang. Sikap tidak peduli pada rakyat yang mengalami kesulitan hidup, miskin, dan mahalnya harga barang-barang, mahalnya biaya pendidikan, anak-anak muda kita banyak menganggur tetap saja diabaikan oleh saudaranya yang lebih punya kemampuan.

Nasionalisme kita telah menjadi nasionalisme mendangkal secara simbolik kita membela dan menghormati bendera merah-putih dalam upacara-upacara kita di kantor-kantor, dan sekolah-sekolah.

Namun manakala kekayaan alam kita dikuras dan dijarah oleh perusahaan asing, ketika sektor perbankan dan industri, perkebunan, tambang kita, bahkan ketika kekuatan asing mendikte perundang-undangan atau keputusan politik kita, menguasai pasar dan nilai tukar kita diam membisu,padahal rakyat sudah terjepit oleh kemiskinan apakah kita sudah kehilangan harga dan martabat diri?

Kita harus memilih pemimpin alternatif dalam pemilu 2009 mendatang. Yaitu, pemimpin yang mampu meninjau kembali para pemegang HPH, kontrak kerja eksploitasi pertambangan karena kekayaan bangsa ini terkuras habis, namun rakyat kita tetap tidak mendapat mamfaat, saudaraku jangan tinggal diam pilih wakil rakyat dalam pemilu sesuai harapan kita untuk menyelamatkan bangsa ini, selamatkan Indonesia.

Nasrullah M Dilla.
 

 
  GUS DUR DUKUNG PRABOWO -  1. MEGA PRO  - 2. SBY BUDIONO - 3.   JK WIN  DEKLARASIKAN PEMILU DAMAI DALAM PILPRES - KAMPANYE    PERTAMA JK WIN  DILAPANGAN KAREBOSI MAKASSAR  
     
Antara News Wire ABC News Australian Financial Review
Astaga!com AP World BCA Foreign Exchange Rate
Bali Post  BBC BII Foreign Exchange Rate
Bisnis Indonesia Asahi Shimbun Bank Bali Foreign Exchange Rate
Bali Post CNN Interactive Bloomberg Online
Detik News Los Angeles Times Bloomberg Currency Rates
Jawa Pos MSNBC Bloomberg Currency Calculator
Kompas South China Morning Post Central Europe Online
Riau Pos The New York Times Forbes Today
Media Indonesia The Sydney Morning Herald  Indonesia Net Exchange
Pikiran Rakyat The Straits Times Indonesia Interactive Investor
Radio Australia The Straits Times Jakarta Stock Exchange
Republika Washington Post Surabaya Stock Exchange
Satunet Koran Tempo   Lemedias
Suara Merdeka INDONESIAN GIFT
TRANSTV
Suara Pembaruan hidayatullah.com  SCTV  
Surabaya Post media.or.id RCTI
The Jakarta Post Time  TPI  
Harian Fajar Makassar USA Today INDOSIAR

Okezone

VIVANEWS

INDONESIA FOCUS

Facebook

TVOne

MetroTV

Contact Information phone  +622142881976  Fax +622142881976  Address        74, Menteng Raya Jakarta Pusat Redaksi@indofocus.com

Send mail to redaksi@indofocus.com with questions or comments about this web site.
Last modified: 09/26/02

 INDOFOC US    Bergaya Hangat dan Cepat

 

Home

Mr.Foc

Focus News

News Blog

Budaya

Bisnis

About Us   

Metropol

FAQ

 

Product

TV News

Phonemobile

Artikel

Opini

Web Radio

Pertanian

Internasional

Editorial